Selasa, 09 Desember 2014

Kenangan 3 tahun

Pelukanmu selalu lembut...
Tidak pernah melihat siapa diriku....
Menerima kekuranganku...

"Kentang!"Kata Jimi dari pojokan kelas. Yah begitulah panggilanku darinya. Sebenarnya namaku Ester Vania. Aku memanggilnya salak. Sebenarnya aku tidak suka dipanggil kentang. Kan kulitnya kentang coklat. Jadi, aku membalasnya dengan memanggilnya salak. "Iya lak ada apa?"Tanyaku sambil berjalan ke arahnya. Di atas mejanya ada sebuah amplop putih panjang."Ini untuk kamu"Kata salak. "Dari?"Tanyaku. "Baca dulu!" Kata salak ketus. "Dear Vania... Gimana kabarmu? Besok ketemuan di taman ya"Kata surat itu. "Dari Jesper"Kalimat di bagian terakhir surat itu. "Oh dari Jesper makasih salak"Kataku pada Jimi."Okelah"Kata Jimi.


"Hai Van!"Kata Jesper. "Haiiiii Jesperrr"Kataku penuh semangat. Memang aku sudah lama tidak menemuinya. "Semangat amat!"Kata Jesper. "Hehehe, Jes kok kayaknya mau hujan deras ya? Nih udah gerimis."Kataku sambil meluruskan tangan untuk merasakan air yang berjatuhan. "Iya, duduk di sampingku saja"Kata Jasper. "Terima kasih. Bagaimana kabarmu ?"Tanyaku. "Sama-sama. Baik-baik saja kok. Bagaimana denganmu?"Tanya Jasper balik. "Aku juga"Jawabku singkat.  "Kok tiba-tiba hujannya deras ya?" Tanya Jasper sambil memandangi air yang berjauhan dari awan. "Iya, memang cuaca sekarang ekstrim gara-gara globalisasi"Kataku dengan agak semangat. Tanpa kusadari tubuhku menggigil. Ada tangan yang melingkari bahuku. Aku tahu bahwa itu tangan Jasper. Pasti! "Jasper, apa kau tidak kedinginan? Mengapa tubuhku ini selalu kedinginan saat hujan?"Tanyaku. "Nggak, aku nggak kedinginan kok. Tenang aja. Ya mungkin kulit kamu feminim. Aku suka anak feminim kok"Kata Jasper sambil menekuk wajahnya ke arahku. "Aku nggak suka feminim deh kalau gitu." Kataku sambil melihat tatapan Jesper. "Hahaha, kamu nggak suka ya? Ya udah yang penting aku suka. Karena aku suka kamu"Kata Jesper polos. WOW kata itu terdengar untuk kedua kalinya di telingaku. Dan sama-sama dia yang bicara kepadaku kata-kata itu. Kau tahu? Aku hanya tinggal di perumahan biasa. Sedangkan dia? Anak pengusaha terkenal di kota yang aku tinggali sekarang. "A..aku... Jes, hujannya udah berhenti ayo kita pulang"Kataku berusaha mencari seribu alasan. "Kamu jawab pertanyaanku dulu, karena sehabis ini aku akan pindah ke Singapore selama 3 tahun. Kumohon kau menjawab pertanyaanku sekarang"Kata Jasper. Air mataku berjatuhan. "Iya Jes aku mau. Aku mau... Jasper, kamu me.. meninggalkanku"Kataku sambil terisak. Lalu Jasper memelukku. "Aku, akan sekolah di sana."Kata Jesper sambil mengelus rambutku. "Baiklah kalau itu yang terbaik untukmu. Aku tidak memaksa."Kataku dengan terisak. Tetap terisak. Mungkin selama 1o menit aku baru melepaskan pelukannya. "Maaf ya"Kata Jesper. "Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu tidak salah" Kataku sambil tersenyum. "Makasih ya. Besok aku berangkat pukul 9 pagi. "Kata Jesper. "Oh oke"Kataku sambil tetap tersenyum.

Esok hari...
"Bye Jesper! Hati-hati ya"Kataku tersenyum "Iya"Kata Jesper lalu naik ke pesawat.


3 tahun kemudian...
"Di mana ya Jesper"Tanyaku murung dan tentunya hari ini tepat tanggal 15 Juli tangal dia akan kembali ke sini. Aku menunggu cemas. "Ba!"Teriak seorang laki-laki di belakangku. "Siapa itu?"Teriakku histeris karena kaget. Lalu aku menghadap ke belakang. "Jesper? Jespeeeeeeeeeeeeeerrrrrrr!!!!"Teriakku seperti orang gila. "Iya Vania"Kata Jesper lalu memelukku. Wow! Teriakku dalam hati. "Kangen nih ya"Kata Jesper. "Ga ketulungan malah. Tanpa kamu, aku jadi pendiam"Kataku lirih. "Hahaha. Berarti aku cerewt ya"KataJesper. "Kok baru nyadar? Hahaha. Ya sudah ayo pulang"Kataku dengan semangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar