1
Ferami Kelazia
“Lalalala” Nyanyiku riang
karena hari ini adalah hari paling menarik yang akan kujalani tahun ini. Ya!
Kalian pasti menduga kalau hari ini aku akan liburan ke luar negeri atau
berulang tahun. Tapi sebenaranya aku akan lulus dan menerima ijazah hari ini
juga! Yey! Sebentar lagi, aku akan masuk jenjang SMP di Surabaya, ibukota Jawa
Timur itu. Aku udah nggak sabar ingin masuk SMP dan akan mendapat teman-teman
yang super baru buatku. Mengapa super baru? Karena sebenarnya aku adalah anak
Jakarta yang akan pindah ke Surabaya. Sekarang, aku akan memperkenalkan namaku
padamu. Namaku Ferami Kelazia. “Pak sopir, apa kita bisa berangkat sekarang?”
Tanyaku sambil menatap riang pada sopir pribadiku yang bernama Agus Supriyadi
itu. “Bentar ya non, saya bersihin dulu kaca mobilnya biar keliatan keren kayak
saya” Kata Pak Agus yang super ge-er banget. Tapi selera humornya memang tinggi. “Hahaha. Pak,
itukan mobil bagaimana cara bapak menyamakan diri bapak sama mobil yang nggak
bernyawa?” Tanyaku yang baru kusadari ternyata aku ketawa gara-gara ke
ge-erannya pak Agus. “Eh, iya juga si non. Ayo non saya sudah bersihkan kaca
mobilnya. Sekarang tinggal let’s go deh” Kata Pak Agus sambil membuka kunci
mobil. Bukannya sombong, aku memiliki mobil Inova yang baru dibeli orang tuaku
dua bulan yang lalu. Maka, kami sekeluarga dan tentunya pak Agus menjaga mobil
ini dengan sangat baik. Tidak terasa jalanan sangat macet dan dipenuhi asap
yang baunya sangat memusingkan kepala.
Setelah 30 menit, barulah kami sampai di sekolah. “Hai Rami!” Kata Nadya
Louren. “Eh panggil aku Fera dong” Kataku dengan akting muka jengkel. “Iya-iya
hanya bercanda. Masa gitu aja marah?” Balas Nadya. “Hahaha 1-0 “ Kataku sambil
menjulurkan lidah. “Kali ini aku yang menang” Kataku lagi sambil menatap Nadya.
“Iya deh.”Kata Nadya yang juga menatapku. “Kamu jadi pindah?” Tanya Nadya
menatapku dengan tajam. Tatapannya selalu tak pernah biasa-biasa saja.
“Hmm”Kataku sambil menganggukan kepala. “Oh” Kata Nadya lalu berlari. Dari raut
mukanya sih dia membuatku curiga. Baru kali ini ia menatapku seperti ini. Aku
merasa agak khawatir karena aku berpikir dia sedang marah atau sebaliknya. Bisa
juga karena mengalami stress karena akan ditinggalkan temannya yang cantik
jelita ini. Hehehe. Aku berjalan menuju ruang tata usaha yang terletak di dekat
tangga sekolahku. “Bu, saya Fera dari kelas 6A. Saya mau mengambil ijazah.”
Kataku feminim namun tegas. “Iya, ini ijazahnya. Selamat ya kamu sudah
mendapatkan hasil yang paling memuaskan pada angkatan tahun ini” Kata Bu Rani sambil menyerahkan
ijazah dengan mapnya yang berwarna merah mengkilap. “Terima kasih bu” Kataku
sesopan mungkin. “Iya, ngomong-ngomong kamu mau pindah ke Surabaya ya?” Tanya
Bu Rani. “Hehehe iya bu”Kataku sesantai mungkin. “Oh. Nanti kalau sudah ada di
Surabaya, jangan lupa untuk kembali ke Jakarta dan bawakan ibu oleh-oleh ya
nak” Kata Bu Rani yang mungkin juga ingin terlihat santai. “Pasti bu.
Kemungkinan, saya akan kembali ke sini saat liburan panjang. Iya bu, saya akan
bawakan ibu oleh-oleh saat saya kembali nanti”Kataku dengan gerakan tangan. “Ya
sudah ibu kembali bekerja ya” Kata Bu Rani sambil memegang pundak kananku. “Iya
bu. Silahkan” Kataku mempersilahkan bu Rani untuk melanjutkan pekerjaannya. Bu
Rani adalah guru TU( Tata Usaha) yang sangat baik. Walaupun sering menegur dan
ceramah di kelasku, namun Bu Rani tetaplah orang yang berjasa yang telah
memasuki kehidupanku selama 6 tahun. Aku berjalan keluar sambil terkagum-kagum
dengan ijazah yang baru kuterima tadi. Aku mendapat hasil 29,75 unuk hasil UN.
Aku dan orang-orang di sekitarku bangga akan hasil UN ku. Namun tidak dengan
Nadya. Apa sebenarnya dia iri? Ah tidak mungkin. Dia kan mendapat 29,30. Beda
dikitkan sama aku? Cuma beda 0,45 kok. Tiba-tiba ada yang menghampiriku dan
menepuk punggungku saat aku melamun. Tepukan itu menyebabkanku kaget setengah
mati. “Aah”Kataku kaget. “Hahaha tidak apa-apa”Kata Rio menenangkanku sambil
memegang pundakku. “Astaga Riooo! Kamu ini gila apa stress? Atau dua-duanya
dicampur jadi satu?”Tanayaku heran. “Dua-duanya dicampur jadi satu. Hehehe”Kata
Rio tertawa yang menurutku nggak lucu sama sekali. “Nggak lucu tau. Orang kaget
kok ditertawain? Terus kalau kamu tertawa-tertawa sendiri karena stress sama
gila aku maklumin kok”Kataku lalu mengembangkan sedikit senyum. “Oh makasih
kalau kamu maklum. Selamat ya atas nilai UN kamu yang sangat tinggi itu”Kata
Rio sambil menggerakan ke depan untuk siap kusalami. “Iya,sama-sama dan terima
kasih” Kataku dengan senyum mengembang dan berjabat tangan dengan Rio. Rasanya
ada wanita di belakang Rio namun cukup jaraknya cukup jauh dari Rio. “Rio, itu
siapa?”Tanyaku pada Rio untuk menghilangkan rasa penasaranku. Rio pun berbalik badan dan wanita itu hilang.
“Mana? Mungkin itu Cuma perasaanmu aja. Karena aku gila dan stress, kamu jadi
ngebayangin kalau aku jadi hantu
perempuan”Kata Rio mencoba menenangkanku. “Hahaha. Aku baru tau kalau kamu
pingin jadi cewek”Kataku dengan tawa yang meledak. Candaan yang dibuatnya
selalu menghibur diriku. Namun, sayangnya dia adalah cowok playboy namun
terkenal di sekolah. Aku pernah dibuat melirik padanya namun saat aku kelas 1
SD. Memalukan sekali. Sekarang aku tidak pernah berpikiran akan pacaran. Aku
fokus ke UN terlebih dahulu. Untungnya hasil UN ku hampir mendekati nilai
sempurna. “Aku juga akan pindah ke Surabaya”Kata Rio sambil menatap geli pada
mukaku yang terkaget dan histeris karena dia juga akan pindah ke Surabaya.
“Haaa? Kamu mau masuk SMP mana?”Tanyaku heran. “Belum tau. Tapi aku harap aku
bisa satu sekolah sama kamu”Kata Rio menatap geli lagi. Aku masih histeris saat
ini. “Maaf kalau aku buat kamu histeris”Kata Rio. “Iya. Ga apa-apa. Aku mau pulang dulu ya”Kataku lalu berjalan
memasuki mobil. “Hati-hati ya!”Teriak Rio dari kejahuan. “Iya! Makasih!”Kataku
dengan teriakan yang tidak kalah keras juga. Aku memasuki mobil dengan perasaan
gembira karena ada Rio yan akan menemaniku saat di Surabaya nanti. Saat sampai
rumahku yang bertingkat dua, aku langsung masuk. Tapi, lepas sepatu dulu dong.
Aku memasuki kamarku yang berudara dingin. Kubuka laptop milikku untuk mengirim
email pada Rio.
From:
feramiprincess@gmail.com
Judul: perpindahan penduduk
Hai Rio! Aku mau Tanya
sesuatu ke kamu. Aku akan pindah ke Surabaya hari Selasa nanti. Kamu kapan?
Jangan lupa dibalas ya jangan dibaca aja.
Kebiasaanku sejak dulu
memang mengirim email. Rumahku dilengkapi dengan sarana wi-fi yang lumayan
cepat. Tapi aku malas untuk membuat akun di social media. Aku lebih senang
menggunakan email. Bisa buat kirim file dan bisa ngobrol-ngobrol. TING! Balasan
emailku sudah ada. Ini emailnya..
Judul: Balasan untuk putri
tercantik yang pernah kutemui
Aku juga akan berangkat hari Selasa nanti dengan
pesawat Garuda Air. Jam 10.00 aku akan berangkat. Ini sudah kubalas dengan
bahasa semampuku.
Hahaha aku disebut putri
tercantik di seluruh dunia. Dasar cowok yang benar-benar playboy. Aku juga akan
naik pesawat Garuda Air pukul Sepuluh pagi. Itu artinya, aku akan setransportasi
dengan Rio nanti. Walaupun aku belum tentu akan
bertemu dengannya nanti, aku sangat berharap bisa bertemu dengannya
nanti saat aku sudah naik pesawat. Walaupun
dia playboy, tapi dia sangat baik padaku. Entah kenapa dia menjadi begitu
special di hidupku. Pokoknya aku ingin tidur sekarang dan bermimpi indah.
Namun, kau tahu? Perasaanku tidak enak saat berada di lapangan tadi saat aku
berbicara dengan Rio. Cewek tadi selalu ada di pikiranku dan susah untuk kuusir
dari pikiranku. Semoga wanita itu tidak dibiarkan otakku begitu saja untuk
memasuki mimpiku yang akan ndah sekali.
Kini saat liburan hari Senin, aku belum
menemuinya. Namun, aku yakin kalau besok aku pasti akan menemuinya di bandara
atau di pesawat. Namun jangan terlalu berharap agar tidak berakhir dengan
kekecewaan saat keinginan kita tidak terpenuhi nanti. Tetapi semoga saja keinginanku kali ini
terpenuhi. Rio… Satu nama yang menempati posisi istimewa di hatiku. Anak
playboy yang tampangnya oke banget di atas rata-rata dan lumayan tinggi. Anak
yang mengerti perasaan sahabatnya. Kalau menurutku nih ya, laki-laki itu memang
hebat dalam bersahabat. Tidak seperti anak perempuan yang menusuk dari
belakang. Ya sudah aku akan mengirim email untuk sahabatku yang kusayang
To
: riojonathan23@yahoo.co.id
Judul
: Aku kangen sahabatku!
Besok
kamu jadi kan berangkat ke Surabaya? Aku kangen sama sahabat cowokku yang
tampangnya oke banget ini.
Dan
balasannya pun pendek karena aku mengirimnya juga pendek
From
: riojonathan23@gmail.co.id
Iya
dong. Hehehe kenapa baru inget kalau aku gantengnya nggak ketulungan? Kamu juga
jadi kan?
Iya
aku juga jadi kok. Hahaha udah inget dari dulu kali mas
Yah
Cuma itu aja emailku pada Rio hari ini. Besok aku akan pergi bersama Rio dan
bersenang-senang bersama.
2
Jonathan Rio
Kapan
ya waktu berlalu dengan cepat? Aku ingin cepat-cepat hari Selasa dan pergi
bersama dengan orang tuaku. Aku ingin pergi dengan Fera dan berjalan-jalan
mengelilingi kota pahlawan itu berdua. Aku juga akan membeli permen kapas
berwarna pink yang sangat manis. Lihat
saja nanti, kehidupannya di Surabaya tak akan membosankan karena ada aku cowok
ganteng yang akan menemaninya selalu. Jangan bilang yek! Aku memang ganteng
kok. Tanya aja ke aku pasti kujawab kalau aku ganteng plus imut. Hehehe. Saat
tadi aku menerima pesan melalui email dari Fera, aku suka sekali karena aku
bisa mendapat email dari orang yang sudah menemaniku selama 6 tahun. Maka,
takkan kubiarkan begitu saja aku melepaskannya dari kehidupanku. Dialah orang
yang mau menerimaku apa adanya. Dialah sahabat sejatiku yan sangat menyayangi
aku. Kurasa begitu. Bukan maksudnya ge-er loh ya! Kulihat pada layar laptoku
lagi. Tak ada email masuk. Mungkin dia sudah tidur. Aku sudah tau
kepribadiannya. Dia adalah anak yang lucu dan punya semangat yang kuat. Tapi dia punya pendirian yang kuat. Bukannya aku mengintip dial oh
ya! Tak mungkin. 18 Jam lagi aku akan berangkat meningalkan Jakarta yang ramai
ini. Dan bersiap-siap untuk ke kota pahlawan yang berada di provinsi Jawa
Timur. Aku juga akan tidur. Aku bermimpi “Aku sedang berjalan-jalan ditaman
bersama seorang wanita cantik dan memakai gaun putih. Kulihat ada wanita
mengintip sedang menangis. Wanita yang menangis itu adalah….Fera! Dan yang
sedang kuajak jalan-jalan adalah Nadya.” Huh… Aku terbangun dari tidurku dan
waktu sudah menunjukan pukul 20.00 WIB. Tida mungkin aku bermimpi tentang hal
itu! Aku tidak boleh membuat Fera menangis. Karena itu hanya akan merusak wajah
cantiknya. Aku berjanji akan selalu melindungi Fera. Aku mengirim email pada
Fera…
Judul
: Khawatir
Gimana
kabarmu? Jangan sakit oke? Besok kita
akan perg ke ibukota Jawa Timur. Jagalah tubuhmu supaya sehat selalu. Orang tua kita berdua sudah tau
bahwa kita nanti akan satu pesawat saat pergi ke Surabaya. Aku bakalan senang
karena aku sudah merencanakan sesuatu untuk yang akan kita lakukan saat di
Surabaya. Oke jangan dibaca aja! Tapi dibales juga!
Setelah
10 menit menunggu, aku mendapat balasan sempurna dari Fera tentang
kegembiraannya yang dia ungkapkan saat di email yang dibalaskannya.
Judul
: Aku bales
Tenang
Rio, aku baik-baik saja kok di sini. Benar-benar baik. Iya aku udah ngak sabar buat pergi ke Surabaya.
Oh ya? Pasti rancangan kegiatan yang kamu buat pasti akan sangat seru. Rancangannya jangan aneh-aneh ya? Oke! Sangat
menyenangkan bila bermain dan bergembira denganmu. Aku benar-benar senang atas
perpindahan yang kita lakukan ini. Aku sudah membalasmu. Jangan lupa untuk
membalas lagi!
Sepertinya
dia senang mendengar berita tentang aku membuat suatu rencana. Rencana yang
akan sangat indah bila dilakukan. Rencana untuk memberikan kejutan pada Fera.
Mungkin, perpindahan ini tak akan membosankan seperti yang kukira. Oke email ini harus aku balas.
Judul
: Senang
Hmm,
perpindahan penduduk. Hahaha. Rancangannya ga bakal aneh-aneh kok. Kamu bisa
lihat saat di Surabaya nanti. Fera cantik, nanti rencananya kita jalani berdua
ya! Kita akan tinggal dalam rumah yang sama.
Mungkin
kalian mengira aku gila karena aku menuliskan kita akan tinggal dalam rumah
yang sama. Namun, justru itu cita-cita yang kuimpikan. Mungkin bisa dibilang
salah satunya. Aku sudah tidak sabar. Ada email yang membalasku.
Judul
: kaget
Hah?
Kita bakal tinggal satu rumah? Hmm oke aku harus tampak wajar. Terus bagaimana
dengan orang tuaku? Aku terpisah dengan orang tuaku? Oke aku percaya kalau
rencanamu nggak bakal aneh-aneh. Ye! Kita akan jalan bersama mengelilingi kota
pahlawan yang kedengarannya asyik itu. Di sana ada tugu pahlawan dan banyak
sarana hiburan yang lain. Kita bakal liburan dulu berdua. Oh ya, orang tuaku
sudah mendaftarkan kita pada satu sekolah yang sama. Nama sekolahnya SMP
Georgia. Kedengaran menarik kan? Oke mungkin menurutmu aku mengrim terlalu
banyak. Namun, sebenarnya ini karena kaget dicampur dengan kegirangan. Sehabis
membalas email ini aku akan mematikan laptopku dan beres-beres untuk besok.
Tapi aku akan selalu menunggu hari esok. Dan, jangan lupa bahwa aku akan
menamai rumah yang kita tinggali berdua dengan nama dream house. Bye-bye Rio!
Tuh
liat email yang dia kirim lebih banyak dari biasanya kan? Yah, kan kami berdua
udah mandiri. Jadi bisa ngelakuin hampir semua sendiri. Kalau butuh bantuan aku
kan laki-laki dan di perempuan, jadi harusnya bisa saling ngelengkapin dong. Ya
sudah aku mau beresin laptop dan barang-barangku dulu ya!
3
Surabaya, I’m come to you!!!!
Pukul
07.00…
Rumah
Fera…
“Fera,
kamu sarapan dulu ya!”Teriak mama Fera dari dapur. “Iya ma! Sebentar! Fera lagi
ke ruang makan nih!”Teriak Fera dari kamarnya. Ya! Hari ini keluarga Fera dan
Rio akan pergi ke Surabaya pukul 10.00 WIB. Fera berlari kecil menuju ruang
makan di rumahnya. Kemudia, kurang dari waktu 20 detik Fera sudah bersiap-siap
untuk melahap makanan yang sudah ada di depan matanya. “Fera.. Berdoa dulu”Kata
mama Fera. “Hehehe, iya ma”Kata Fera lalu berdoa. Makanan yang di sediakan oleh
mamanya da dibantu dengan pembantunya adalah Ayam bakar, Gurami asam manis,
salad, dan es buah yang kelihatannya sangat menggoda hati. Percayalah jika
kalian lihat makanan ini, kalian akan sangat tertarik. Karena, Fera juga
mengalami hal serupa. Dengan gerakan cepat, Fera mengambil lauk-pauk dan nasi
yang ada di atas meja makan itu. “Hmm enak ma!”Kata Fera sambil menampakkan
wajah gembiranya. “Iya dong! Siapa dulu yang masak? Mama!”Kata Mama Fera lalu tertawa
kecil. “Hehehe. Ya udah Fera mau makan dulu ya ma” Kata Fera lalu melahap
makanannya.
Rumah
Rio….
“Rio,
ayo makan dulu!”Teriak mama Rio dari ruang makan. “Iya ma! Rio lagi ke
sana!”Kata Rio penuh semangat sambil berjalan dengan sepatu rodanya. “Nih, mama
buatin makanan kesukaan kamu, gurami asam manis”Kata mama Rio sambil meletakkan
ikan guraminya ke atas piring Rio. Kebetulan, menu makan Rio hari ini adalah gurami asam manis,
cah angkung, sambal terasi, dan ayam goreng. Jangan lpa minumnya es teh. Jangan
pernah lupakan bahwa minuman favorite Rio adalah es the atau es krim rasa
vanilla dengan chocochipsnya.”Makasih ya ma”Kata Rio lalu melahap makananya.
“Iya Rio”Jawab mama sambil tersenyum melihat tingkah laku Rio.
Pukul
09.00…
“Halo
Rio!”Seru Fera girang saat dia menelepon Rio di mobilnya. “Iya, hai Fera!”Kata
Rio girang juga. “Barang bawaanku banyak banget nih!”Kata Fera mulai curhat.
“Sama! Kita kan mau perpindahan penduduk Fera. Hihihi”Kata Rio lalu tertawa.
“Hahaha. Ya sudah aku mau sampai nih. Aku tutup teleponnya ya! Bye!”Kata Fera
lalu menutup teleponnya.
Pukul
09.30..
Check
in di pesawat…
“Rio
mana ya?”Tanya Fera dalam hati. Fera khawatir karena dia nggak ingin dia tidak
akan bertemu lagi dengan Rio. 30 menit lagi pesawat akan terbang. “Aku ada di
sini”Kata seorang laki-laki di belakang Fera lalu memegang salah satu pundak
Fera. “Hmm, kau pasti…. Riooo”Kata Fera lalu berbalik badan. “Iya Fera. Kangen
ya sama aku?”Kata Rio sambil tersenyum. “Siapa yang kangen? Tapi, aku kangennya
kebangetaaann”Kata Fera lalu memeluk Rio. “Fera! Ini tempat umum!”Kata Rio.
“Hmm, maaf ya”Kata Fera lalu melepaskan pelukannya. “Ayo kita ikuti orang tua
kita sebelum kita tertinggal”Kata Rio sambil menarik tangan Fera. “Iya” Kata
Fera. “Mereka terlihat akrab sekali ya”Kata Fera sambil melihat kedua orang
tuanya dan kakaknya serta kedua orang tua Rio dan adik Rio. “Iya”Kata Rio.
Di
pesawat…
“Rio,
aku tidur dulu ya hehe”Kata Fera. “Iya tidur aja”Kata Rio. Lalu Fera tertidur.
4
Jonathan Rio
Kalian
harus tau. Saat di bandara tadi, aku harus berjinjit untuk mencari keberadaan
Fera. Keadaan di bandara sangat penuh orang dewasa dan jarang untuk anak-anak.
Udara panas menyerangku saat di bandara tadi. Udara panas karena orang-orang
yang banyak. Namun, dengan bantuan orang tuaku aku akhirnya bertemu dengan
Ferami Kelzia. Sungguh, bawaannya lebih banyak dari aku. Mungkin karena dia
anak cewek. Anak cewek kan bawaannya selalu banyak. Akhirnya dari keadaan tadi
yang penuh sesak, aku berada di pesawat ini dan duduk di sebelah Fera.
Penampilannya terlihat lebih angun daripada tadi. Lega rasanya bisa sampai dan
duduk di dalam pesawat ini. Apalagi, ini pengalamanku pertama kali saat naik
pesawat. Sedangkan Fera mungkin sudah lebih dari dua kali saat naik pesawat.
Ternyata naik pesawat lebih membosankan dari yang kukira. Walaupun aku naik pesawat
yang kelas 1, namun aku merasa bosan karena tidak dapat menyalakan HP dan untuk mengirim SMS. Padahal aku kan ingin
mengirim status di media social “Surabaya, I’m coming!!!”. Tapi saat aku ingin
mengambil foto bersama Fera malah dia ingin tidur. Ya sudah aku harus istirahat
juga biar sampai di Surabaya nanti aku bisa beraktifitas dengan lancar. Aku pun
mulai tidur… Di dalam mimpi aku serasa terbang mengitari awan bersama Fera.
Fera terlihat sangat cantik dengan gaun putihnya yang mengkilau. Rok dari gaun
yang dikenakannya bertaburkan permata yang sangat mengkilau. Sementara aku
mengenakan kemeja putih dan jas tanpa lengan berwarna hitam. Fera sangat
cantik. Namun, tanpa kusadari tubuhku agak berguncang. Kubuka mataku.
“Rioooooo!! Kenapa baru bangun? Ini sudah hampir sampai. Sebentar lagi pesawat
akan mendarat!”Kata Fera. “Ah Fera! Kamu...”Kataku namun terputus. “Udah, nggak
usah dijelasin. Ayo kita siap-siap”Kata Fera dengan muka gembiranya. “Hmm”Kataku
sambil merapikan bajuku. Kini kami hampir mendarat di bandara Juanda. “Oh
ya princess Fera, aku ingin selfie
denganmu”Kataku. Memang alay sih. “Ayo!”Kata Fera. Ckrik, ckrik, ckrik. Suara
kameraku terdengar menarik. Foto yang kuambil pun lumayan bagus. “Silahkan para
penumpang keluar dari pesawat. Semoga perjalanan kalian semua berjalan dengan
lancar.”Kata pramugari yang ada di situ. Wow! Satu kata dari hatiku yang ingin
kuteriakan saat ini. Bandara Juanda ini pernah dinobatkan menjadi bandara paling
bersih se-Indonesia. Aku kagum dengan kota pahlawan ini. “WOW!”Teriak Fera yang
membuat telingaku budek. “Fera! Kecilin dong suaramu!”Kata kakak Fera yang
sepertinya budek gara-gara suara Fera. “Maaf dong”Kata Fera lalu mukanya
memerah. “Hmm, sebenarnya, bandara Juanda ini termasuk dalam kota Sidoarjo”Kata
kak Leo, kakaknya Fera. “Hmm, gitu ya kak”Kata Lintang adik kecilku yang nakal.
“Iya”Kata kak Leo sambil mengembangkan senyumnya dengan disertai lesung
pipinya. “Ma, kita mau nginep di hotel atau mama udah kontrak rumah?”Tanya Fera
pada mamanya. Oh jangan sampai dia lupa dengan rencamaku dan yang aku dan Fera
akan tinggal berdua. Ya, begitu sih kata orang tuaku. Aku akan tinggal berdua
dengan Fera. Semoga saja orang tuaku tidak membohongiku agar aku mau ke kota
pahlawan ini. “Kita akan tinggal di apartemen sayang, sama keluarga Rio
juga”Kata mama Fera dengan lembut. “APA?”Tanyaku keras-keras. “Ups”Kataku
sambil menutup mulut. “Hush”Kata Fera. “Maaf Fer”Kataku cuek. Aku menyesali
karena ternyata aku hanya akan tinggal satu apartemen dengan Fera. Bukannya
satu rumah. Hmmm, ya sudah tapi aku harap aku bisa menjalankan rencanaku dengan
baik. Aku menoleh kepada Fera. Wajahnya seperti biasanya cantik, matanya
berseri, dan ujung bibirnya melengkung ke atas. “Ri, aku minta maaf ya”Kata
Fera. “Emang kenapa?”Tanyaku. “Aku… aku, sudah mengecewakanmu”Kata Fera.
“Kecewa? Nggak kok”Kataku padahal aku sedikit kecewa dengan jawaban yang tadi.
“Aku nggak bakal satu sekolah sama kamu”Kata Fera. Kini ujung bibirnya
melengkung ke bawah dan dia mengeluarkan air matanya yang indah. “Tuhan sudah
menentukan yang terbaik buat kita Fer”Kataku sambil mengelus punggungnya.
Kenapa? Kenapa ini harus terjadi? Aku tidak akan satu rumah dan satu sekolah
dengannya. Dan di saat-saat seperti ini, aku tidak akan bisa mengelus mukanya
yang halus karena kami sedang berjalan. Biasanya dia tertawa riang dan kulit
putihnya memancarkan cahaya kegirangan. Namun, yang kulihat kini air mata yang
membasahi pipinya. “Ini harus ya Ri? Aku nggak pengen kita pisah!”Kata Fera.
“Iya aku tau. Aku juga nggak pingin kita pisah”Kataku mencoba menenangkan Fera.
“Hmm, semoga persahabatan kita akan terjalin terus ya”Kata Fera lirih.
“Iya”Kataku.
5
Ferami Kelzia
Jangan
sebarkan rahasia ini ya! Aku menangis semalaman! Aku tidak ingin lain sekolah
dengan Rio. Mungkin kau akan menganggapku cengeng karena aku sudah menangis
semalaman tetapi penyebabnya adalah aku tidak satu sekolah dengan Rio. Walaupun
kami hanya sebatas sahabat. Namun, aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku.
Hmmm, aku percaya Tuhan pasti sudah memberikan yang terbaik.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lanjutan? banyak tugassss!!!