Senin, 24 November 2014

Kesedihan belaka



1
Ferami Kelazia
“Lalalala” Nyanyiku riang karena hari ini adalah hari paling menarik yang akan kujalani tahun ini. Ya! Kalian pasti menduga kalau hari ini aku akan liburan ke luar negeri atau berulang tahun. Tapi sebenaranya aku akan lulus dan menerima ijazah hari ini juga! Yey! Sebentar lagi, aku akan masuk jenjang SMP di Surabaya, ibukota Jawa Timur itu. Aku udah nggak sabar ingin masuk SMP dan akan mendapat teman-teman yang super baru buatku. Mengapa super baru? Karena sebenarnya aku adalah anak Jakarta yang akan pindah ke Surabaya. Sekarang, aku akan memperkenalkan namaku padamu. Namaku Ferami Kelazia. “Pak sopir, apa kita bisa berangkat sekarang?” Tanyaku sambil menatap riang pada sopir pribadiku yang bernama Agus Supriyadi itu. “Bentar ya non, saya bersihin dulu kaca mobilnya biar keliatan keren kayak saya” Kata Pak Agus yang super ge-er banget. Tapi  selera humornya memang tinggi. “Hahaha. Pak, itukan mobil bagaimana cara bapak menyamakan diri bapak sama mobil yang nggak bernyawa?” Tanyaku yang baru kusadari ternyata aku ketawa gara-gara ke ge-erannya pak Agus. “Eh, iya juga si non. Ayo non saya sudah bersihkan kaca mobilnya. Sekarang tinggal let’s go deh” Kata Pak Agus sambil membuka kunci mobil. Bukannya sombong, aku memiliki mobil Inova yang baru dibeli orang tuaku dua bulan yang lalu. Maka, kami sekeluarga dan tentunya pak Agus menjaga mobil ini dengan sangat baik. Tidak terasa jalanan sangat macet dan dipenuhi asap yang baunya sangat memusingkan kepala.  Setelah 30 menit, barulah kami sampai di sekolah. “Hai Rami!” Kata Nadya Louren. “Eh panggil aku Fera dong” Kataku dengan akting muka jengkel. “Iya-iya hanya bercanda. Masa gitu aja marah?” Balas Nadya. “Hahaha 1-0 “ Kataku sambil menjulurkan lidah. “Kali ini aku yang menang” Kataku lagi sambil menatap Nadya. “Iya deh.”Kata Nadya yang juga menatapku. “Kamu jadi pindah?” Tanya Nadya menatapku dengan tajam. Tatapannya selalu tak pernah biasa-biasa saja. “Hmm”Kataku sambil menganggukan kepala. “Oh” Kata Nadya lalu berlari. Dari raut mukanya sih dia membuatku curiga. Baru kali ini ia menatapku seperti ini. Aku merasa agak khawatir karena aku berpikir dia sedang marah atau sebaliknya. Bisa juga karena mengalami stress karena akan ditinggalkan temannya yang cantik jelita ini. Hehehe. Aku berjalan menuju ruang tata usaha yang terletak di dekat tangga sekolahku. “Bu, saya Fera dari kelas 6A. Saya mau mengambil ijazah.” Kataku feminim namun tegas. “Iya, ini ijazahnya. Selamat ya kamu sudah mendapatkan hasil yang paling memuaskan pada angkatan  tahun ini” Kata Bu Rani sambil menyerahkan ijazah dengan mapnya yang berwarna merah mengkilap. “Terima kasih bu” Kataku sesopan mungkin. “Iya, ngomong-ngomong kamu mau pindah ke Surabaya ya?” Tanya Bu Rani. “Hehehe iya bu”Kataku sesantai mungkin. “Oh. Nanti kalau sudah ada di Surabaya, jangan lupa untuk kembali ke Jakarta dan bawakan ibu oleh-oleh ya nak” Kata Bu Rani yang mungkin juga ingin terlihat santai. “Pasti bu. Kemungkinan, saya akan kembali ke sini saat liburan panjang. Iya bu, saya akan bawakan ibu oleh-oleh saat saya kembali nanti”Kataku dengan gerakan tangan. “Ya sudah ibu kembali bekerja ya” Kata Bu Rani sambil memegang pundak kananku. “Iya bu. Silahkan” Kataku mempersilahkan bu Rani untuk melanjutkan pekerjaannya. Bu Rani adalah guru TU( Tata Usaha) yang sangat baik. Walaupun sering menegur dan ceramah di kelasku, namun Bu Rani tetaplah orang yang berjasa yang telah memasuki kehidupanku selama 6 tahun. Aku berjalan keluar sambil terkagum-kagum dengan ijazah yang baru kuterima tadi. Aku mendapat hasil 29,75 unuk hasil UN. Aku dan orang-orang di sekitarku bangga akan hasil UN ku. Namun tidak dengan Nadya. Apa sebenarnya dia iri? Ah tidak mungkin. Dia kan mendapat 29,30. Beda dikitkan sama aku? Cuma beda 0,45 kok. Tiba-tiba ada yang menghampiriku dan menepuk punggungku saat aku melamun. Tepukan itu menyebabkanku kaget setengah mati. “Aah”Kataku kaget. “Hahaha tidak apa-apa”Kata Rio menenangkanku sambil memegang pundakku. “Astaga Riooo! Kamu ini gila apa stress? Atau dua-duanya dicampur jadi satu?”Tanayaku heran. “Dua-duanya dicampur jadi satu. Hehehe”Kata Rio tertawa yang menurutku nggak lucu sama sekali. “Nggak lucu tau. Orang kaget kok ditertawain? Terus kalau kamu tertawa-tertawa sendiri karena stress sama gila aku maklumin kok”Kataku lalu mengembangkan sedikit senyum. “Oh makasih kalau kamu maklum. Selamat ya atas nilai UN kamu yang sangat tinggi itu”Kata Rio sambil menggerakan ke depan untuk siap kusalami. “Iya,sama-sama dan terima kasih” Kataku dengan senyum mengembang dan berjabat tangan dengan Rio. Rasanya ada wanita di belakang Rio namun cukup jaraknya cukup jauh dari Rio. “Rio, itu siapa?”Tanyaku pada Rio untuk menghilangkan rasa penasaranku.  Rio pun berbalik badan dan wanita itu hilang. “Mana? Mungkin itu Cuma perasaanmu aja. Karena aku gila dan stress, kamu jadi ngebayangin  kalau aku jadi hantu perempuan”Kata Rio mencoba menenangkanku. “Hahaha. Aku baru tau kalau kamu pingin jadi cewek”Kataku dengan tawa yang meledak. Candaan yang dibuatnya selalu menghibur diriku. Namun, sayangnya dia adalah cowok playboy namun terkenal di sekolah. Aku pernah dibuat melirik padanya namun saat aku kelas 1 SD. Memalukan sekali. Sekarang aku tidak pernah berpikiran akan pacaran. Aku fokus ke UN terlebih dahulu. Untungnya hasil UN ku hampir mendekati nilai sempurna. “Aku juga akan pindah ke Surabaya”Kata Rio sambil menatap geli pada mukaku yang terkaget dan histeris karena dia juga akan pindah ke Surabaya. “Haaa? Kamu mau masuk SMP mana?”Tanyaku heran. “Belum tau. Tapi aku harap aku bisa satu sekolah sama kamu”Kata Rio menatap geli lagi. Aku masih histeris saat ini. “Maaf kalau aku buat kamu histeris”Kata Rio. “Iya. Ga apa-apa.  Aku mau pulang dulu ya”Kataku lalu berjalan memasuki mobil. “Hati-hati ya!”Teriak Rio dari kejahuan. “Iya! Makasih!”Kataku dengan teriakan yang tidak kalah keras juga. Aku memasuki mobil dengan perasaan gembira karena ada Rio yan akan menemaniku saat di Surabaya nanti. Saat sampai rumahku yang bertingkat dua, aku langsung masuk. Tapi, lepas sepatu dulu dong. Aku memasuki kamarku yang berudara dingin. Kubuka laptop milikku untuk mengirim email pada Rio.
From: feramiprincess@gmail.com
Judul: perpindahan penduduk
Hai Rio! Aku mau Tanya sesuatu ke kamu. Aku akan pindah ke Surabaya hari Selasa nanti. Kamu kapan? Jangan lupa dibalas ya jangan dibaca aja.
Kebiasaanku sejak dulu memang mengirim email. Rumahku dilengkapi dengan sarana wi-fi yang lumayan cepat. Tapi aku malas untuk membuat akun di social media. Aku lebih senang menggunakan email. Bisa buat kirim file dan bisa ngobrol-ngobrol. TING! Balasan emailku sudah ada.  Ini emailnya..
Judul: Balasan untuk putri tercantik yang pernah kutemui
Aku juga  akan berangkat hari Selasa nanti dengan pesawat Garuda Air. Jam 10.00 aku akan berangkat. Ini sudah kubalas dengan bahasa semampuku.
Hahaha aku disebut putri tercantik di seluruh dunia. Dasar cowok yang benar-benar playboy. Aku juga akan naik pesawat Garuda Air pukul Sepuluh  pagi. Itu artinya, aku akan setransportasi dengan Rio nanti. Walaupun aku belum tentu akan  bertemu dengannya nanti, aku sangat berharap bisa bertemu dengannya nanti saat aku sudah naik pesawat.  Walaupun dia playboy, tapi dia sangat baik padaku. Entah kenapa dia menjadi begitu special di hidupku. Pokoknya aku ingin tidur sekarang dan bermimpi indah. Namun, kau tahu? Perasaanku tidak enak saat berada di lapangan tadi saat aku berbicara dengan Rio. Cewek tadi selalu ada di pikiranku dan susah untuk kuusir dari pikiranku. Semoga wanita itu tidak dibiarkan otakku begitu saja untuk memasuki mimpiku yang akan ndah sekali.
Kini saat liburan hari Senin, aku belum menemuinya. Namun, aku yakin kalau besok aku pasti akan menemuinya di bandara atau di pesawat. Namun jangan terlalu berharap agar tidak berakhir dengan kekecewaan saat keinginan kita tidak terpenuhi nanti.  Tetapi semoga saja keinginanku kali ini terpenuhi. Rio… Satu nama yang menempati posisi istimewa di hatiku. Anak playboy yang tampangnya oke banget di atas rata-rata dan lumayan tinggi. Anak yang mengerti perasaan sahabatnya. Kalau menurutku nih ya, laki-laki itu memang hebat dalam bersahabat. Tidak seperti anak perempuan yang menusuk dari belakang. Ya sudah aku akan mengirim email untuk sahabatku yang kusayang
To : riojonathan23@yahoo.co.id
Judul : Aku kangen sahabatku!
Besok kamu jadi kan berangkat ke Surabaya? Aku kangen sama sahabat cowokku yang tampangnya oke banget ini.
Dan balasannya pun pendek karena aku mengirimnya juga pendek
From : riojonathan23@gmail.co.id
Iya dong. Hehehe kenapa baru inget kalau aku gantengnya nggak ketulungan? Kamu juga jadi kan?
Iya aku juga jadi kok. Hahaha udah inget dari dulu kali mas
Yah Cuma itu aja emailku pada Rio hari ini. Besok aku akan pergi bersama Rio dan bersenang-senang bersama.

2
Jonathan Rio
Kapan ya waktu berlalu dengan cepat? Aku ingin cepat-cepat hari Selasa dan pergi bersama dengan orang tuaku. Aku ingin pergi dengan Fera dan berjalan-jalan mengelilingi kota pahlawan itu berdua. Aku juga akan membeli permen kapas berwarna pink  yang sangat manis. Lihat saja nanti, kehidupannya di Surabaya tak akan membosankan karena ada aku cowok ganteng yang akan menemaninya selalu. Jangan bilang yek! Aku memang ganteng kok. Tanya aja ke aku pasti kujawab kalau aku ganteng plus imut. Hehehe. Saat tadi aku menerima pesan melalui email dari Fera, aku suka sekali karena aku bisa mendapat email dari orang yang sudah menemaniku selama 6 tahun. Maka, takkan kubiarkan begitu saja aku melepaskannya dari kehidupanku. Dialah orang yang mau menerimaku apa adanya. Dialah sahabat sejatiku yan sangat menyayangi aku. Kurasa begitu. Bukan maksudnya ge-er loh ya! Kulihat pada layar laptoku lagi. Tak ada email masuk. Mungkin dia sudah tidur. Aku sudah tau kepribadiannya. Dia adalah anak yang lucu dan punya semangat yang kuat. Tapi dia punya pendirian yang kuat. Bukannya aku mengintip dial oh ya! Tak mungkin. 18 Jam lagi aku akan berangkat meningalkan Jakarta yang ramai ini. Dan bersiap-siap untuk ke kota pahlawan yang berada di provinsi Jawa Timur. Aku juga akan tidur. Aku bermimpi “Aku sedang berjalan-jalan ditaman bersama seorang wanita cantik dan memakai gaun putih. Kulihat ada wanita mengintip sedang menangis. Wanita yang menangis itu adalah….Fera! Dan yang sedang kuajak jalan-jalan adalah Nadya.” Huh… Aku terbangun dari tidurku dan waktu sudah menunjukan pukul 20.00 WIB. Tida mungkin aku bermimpi tentang hal itu! Aku tidak boleh membuat Fera menangis. Karena itu hanya akan merusak wajah cantiknya. Aku berjanji akan selalu melindungi Fera. Aku mengirim email pada Fera…
Judul : Khawatir
Gimana kabarmu? Jangan sakit oke?  Besok kita akan perg ke ibukota Jawa Timur. Jagalah tubuhmu supaya  sehat selalu. Orang tua kita berdua sudah tau bahwa kita nanti akan satu pesawat saat pergi ke Surabaya. Aku bakalan senang karena aku sudah merencanakan sesuatu untuk yang akan kita lakukan saat di Surabaya. Oke jangan dibaca aja! Tapi dibales juga!
Setelah 10 menit menunggu, aku mendapat balasan sempurna dari Fera tentang kegembiraannya yang dia ungkapkan saat di email yang dibalaskannya.
Judul : Aku bales
Tenang Rio, aku baik-baik saja kok di sini. Benar-benar baik.  Iya aku udah ngak sabar buat pergi ke Surabaya. Oh ya? Pasti rancangan kegiatan yang kamu buat pasti akan sangat  seru. Rancangannya jangan aneh-aneh ya? Oke! Sangat menyenangkan bila bermain dan bergembira denganmu. Aku benar-benar senang atas perpindahan yang kita lakukan ini. Aku sudah membalasmu. Jangan lupa untuk membalas lagi!
Sepertinya dia senang mendengar berita tentang aku membuat suatu rencana. Rencana yang akan sangat indah bila dilakukan. Rencana untuk memberikan kejutan pada Fera. Mungkin, perpindahan ini tak akan membosankan seperti yang kukira.  Oke email ini harus aku balas.
Judul : Senang
Hmm, perpindahan penduduk. Hahaha. Rancangannya ga bakal aneh-aneh kok. Kamu bisa lihat saat di Surabaya nanti. Fera cantik, nanti rencananya kita jalani berdua ya! Kita akan tinggal dalam rumah yang sama.
Mungkin kalian mengira aku gila karena aku menuliskan kita akan tinggal dalam rumah yang sama. Namun, justru itu cita-cita yang kuimpikan. Mungkin bisa dibilang salah satunya. Aku sudah tidak sabar. Ada email yang membalasku.
Judul : kaget
Hah? Kita bakal tinggal satu rumah? Hmm oke aku harus tampak wajar. Terus bagaimana dengan orang tuaku? Aku terpisah dengan orang tuaku? Oke aku percaya kalau rencanamu nggak bakal aneh-aneh. Ye! Kita akan jalan bersama mengelilingi kota pahlawan yang kedengarannya asyik itu. Di sana ada tugu pahlawan dan banyak sarana hiburan yang lain. Kita bakal liburan dulu berdua. Oh ya, orang tuaku sudah mendaftarkan kita pada satu sekolah yang sama. Nama sekolahnya SMP Georgia. Kedengaran menarik kan? Oke mungkin menurutmu aku mengrim terlalu banyak. Namun, sebenarnya ini karena kaget dicampur dengan kegirangan. Sehabis membalas email ini aku akan mematikan laptopku dan beres-beres untuk besok. Tapi aku akan selalu menunggu hari esok. Dan, jangan lupa bahwa aku akan menamai rumah yang kita tinggali berdua dengan nama dream house. Bye-bye Rio!
Tuh liat email yang dia kirim lebih banyak dari biasanya kan? Yah, kan kami berdua udah mandiri. Jadi bisa ngelakuin hampir semua sendiri. Kalau butuh bantuan aku kan laki-laki dan di perempuan, jadi harusnya bisa saling ngelengkapin dong. Ya sudah aku mau beresin laptop dan barang-barangku dulu ya!




3
Surabaya, I’m come to you!!!!
Pukul 07.00…
Rumah Fera…
“Fera, kamu sarapan dulu ya!”Teriak mama Fera dari dapur. “Iya ma! Sebentar! Fera lagi ke ruang makan nih!”Teriak Fera dari kamarnya. Ya! Hari ini keluarga Fera dan Rio akan pergi ke Surabaya pukul 10.00 WIB. Fera berlari kecil menuju ruang makan di rumahnya. Kemudia, kurang dari waktu 20 detik Fera sudah bersiap-siap untuk melahap makanan yang sudah ada di depan matanya. “Fera.. Berdoa dulu”Kata mama Fera. “Hehehe, iya ma”Kata Fera lalu berdoa. Makanan yang di sediakan oleh mamanya da dibantu dengan pembantunya adalah Ayam bakar, Gurami asam manis, salad, dan es buah yang kelihatannya sangat menggoda hati. Percayalah jika kalian lihat makanan ini, kalian akan sangat tertarik. Karena, Fera juga mengalami hal serupa. Dengan gerakan cepat, Fera mengambil lauk-pauk dan nasi yang ada di atas meja makan itu. “Hmm enak ma!”Kata Fera sambil menampakkan wajah gembiranya. “Iya dong! Siapa dulu yang masak? Mama!”Kata Mama Fera lalu tertawa kecil. “Hehehe. Ya udah Fera mau makan dulu ya ma” Kata Fera lalu melahap makanannya.
Rumah Rio….
“Rio, ayo makan dulu!”Teriak mama Rio dari ruang makan. “Iya ma! Rio lagi ke sana!”Kata Rio penuh semangat sambil berjalan dengan sepatu rodanya. “Nih, mama buatin makanan kesukaan kamu, gurami asam manis”Kata mama Rio sambil meletakkan ikan guraminya ke atas piring Rio. Kebetulan, menu  makan Rio hari ini adalah gurami asam manis, cah angkung, sambal terasi, dan ayam goreng. Jangan lpa minumnya es teh. Jangan pernah lupakan bahwa minuman favorite Rio adalah es the atau es krim rasa vanilla dengan chocochipsnya.”Makasih ya ma”Kata Rio lalu melahap makananya. “Iya Rio”Jawab mama sambil tersenyum melihat tingkah laku Rio.
Pukul 09.00…
“Halo Rio!”Seru Fera girang saat dia menelepon Rio di mobilnya. “Iya, hai Fera!”Kata Rio girang juga. “Barang bawaanku banyak banget nih!”Kata Fera mulai curhat. “Sama! Kita kan mau perpindahan penduduk Fera. Hihihi”Kata Rio lalu tertawa. “Hahaha. Ya sudah aku mau sampai nih. Aku tutup teleponnya ya! Bye!”Kata Fera lalu menutup teleponnya.
Pukul 09.30..
Check in di pesawat…
“Rio mana ya?”Tanya Fera dalam hati. Fera khawatir karena dia nggak ingin dia tidak akan bertemu lagi dengan Rio. 30 menit lagi pesawat akan terbang. “Aku ada di sini”Kata seorang laki-laki di belakang Fera lalu memegang salah satu pundak Fera. “Hmm, kau pasti…. Riooo”Kata Fera lalu berbalik badan. “Iya Fera. Kangen ya sama aku?”Kata Rio sambil tersenyum. “Siapa yang kangen? Tapi, aku kangennya kebangetaaann”Kata Fera lalu memeluk Rio. “Fera! Ini tempat umum!”Kata Rio. “Hmm, maaf ya”Kata Fera lalu melepaskan pelukannya. “Ayo kita ikuti orang tua kita sebelum kita tertinggal”Kata Rio sambil menarik tangan Fera. “Iya” Kata Fera. “Mereka terlihat akrab sekali ya”Kata Fera sambil melihat kedua orang tuanya dan kakaknya serta kedua orang tua Rio dan adik Rio. “Iya”Kata Rio.
Di pesawat…
“Rio, aku tidur dulu ya hehe”Kata Fera. “Iya tidur aja”Kata Rio. Lalu Fera tertidur.


4
Jonathan Rio
Kalian harus tau. Saat di bandara tadi, aku harus berjinjit untuk mencari keberadaan Fera. Keadaan di bandara sangat penuh orang dewasa dan jarang untuk anak-anak. Udara panas menyerangku saat di bandara tadi. Udara panas karena orang-orang yang banyak. Namun, dengan bantuan orang tuaku aku akhirnya bertemu dengan Ferami Kelzia. Sungguh, bawaannya lebih banyak dari aku. Mungkin karena dia anak cewek. Anak cewek kan bawaannya selalu banyak. Akhirnya dari keadaan tadi yang penuh sesak, aku berada di pesawat ini dan duduk di sebelah Fera. Penampilannya terlihat lebih angun daripada tadi. Lega rasanya bisa sampai dan duduk di dalam pesawat ini. Apalagi, ini pengalamanku pertama kali saat naik pesawat. Sedangkan Fera mungkin sudah lebih dari dua kali saat naik pesawat. Ternyata naik pesawat lebih membosankan dari yang kukira. Walaupun aku naik pesawat yang kelas 1, namun aku merasa bosan karena tidak dapat menyalakan HP  dan untuk mengirim SMS. Padahal aku kan ingin mengirim status di media social “Surabaya, I’m coming!!!”. Tapi saat aku ingin mengambil foto bersama Fera malah dia ingin tidur. Ya sudah aku harus istirahat juga biar sampai di Surabaya nanti aku bisa beraktifitas dengan lancar. Aku pun mulai tidur… Di dalam mimpi aku serasa terbang mengitari awan bersama Fera. Fera terlihat sangat cantik dengan gaun putihnya yang mengkilau. Rok dari gaun yang dikenakannya bertaburkan permata yang sangat mengkilau. Sementara aku mengenakan kemeja putih dan jas tanpa lengan berwarna hitam. Fera sangat cantik. Namun, tanpa kusadari tubuhku agak berguncang. Kubuka mataku. “Rioooooo!! Kenapa baru bangun? Ini sudah hampir sampai. Sebentar lagi pesawat akan mendarat!”Kata Fera. “Ah Fera! Kamu...”Kataku namun terputus. “Udah, nggak usah dijelasin. Ayo kita siap-siap”Kata Fera dengan muka gembiranya. “Hmm”Kataku sambil merapikan bajuku. Kini kami hampir mendarat di bandara Juanda. “Oh ya  princess Fera, aku ingin selfie denganmu”Kataku. Memang alay sih. “Ayo!”Kata Fera. Ckrik, ckrik, ckrik. Suara kameraku terdengar menarik. Foto yang kuambil pun lumayan bagus. “Silahkan para penumpang keluar dari pesawat. Semoga perjalanan kalian semua berjalan dengan lancar.”Kata pramugari yang ada di situ. Wow! Satu kata dari hatiku yang ingin kuteriakan saat ini. Bandara Juanda ini pernah dinobatkan menjadi bandara paling bersih se-Indonesia. Aku kagum dengan kota pahlawan ini. “WOW!”Teriak Fera yang membuat telingaku budek. “Fera! Kecilin dong suaramu!”Kata kakak Fera yang sepertinya budek gara-gara suara Fera. “Maaf dong”Kata Fera lalu mukanya memerah. “Hmm, sebenarnya, bandara Juanda ini termasuk dalam kota Sidoarjo”Kata kak Leo, kakaknya Fera. “Hmm, gitu ya kak”Kata Lintang adik kecilku yang nakal. “Iya”Kata kak Leo sambil mengembangkan senyumnya dengan disertai lesung pipinya. “Ma, kita mau nginep di hotel atau mama udah kontrak rumah?”Tanya Fera pada mamanya. Oh jangan sampai dia lupa dengan rencamaku dan yang aku dan Fera akan tinggal berdua. Ya, begitu sih kata orang tuaku. Aku akan tinggal berdua dengan Fera. Semoga saja orang tuaku tidak membohongiku agar aku mau ke kota pahlawan ini. “Kita akan tinggal di apartemen sayang, sama keluarga Rio juga”Kata mama Fera dengan lembut. “APA?”Tanyaku keras-keras. “Ups”Kataku sambil menutup mulut. “Hush”Kata Fera. “Maaf Fer”Kataku cuek. Aku menyesali karena ternyata aku hanya akan tinggal satu apartemen dengan Fera. Bukannya satu rumah. Hmmm, ya sudah tapi aku harap aku bisa menjalankan rencanaku dengan baik. Aku menoleh kepada Fera. Wajahnya seperti biasanya cantik, matanya berseri, dan ujung bibirnya melengkung ke atas. “Ri, aku minta maaf ya”Kata Fera. “Emang kenapa?”Tanyaku. “Aku… aku, sudah mengecewakanmu”Kata Fera. “Kecewa? Nggak kok”Kataku padahal aku sedikit kecewa dengan jawaban yang tadi. “Aku nggak bakal satu sekolah sama kamu”Kata Fera. Kini ujung bibirnya melengkung ke bawah dan dia mengeluarkan air matanya yang indah. “Tuhan sudah menentukan yang terbaik buat kita Fer”Kataku sambil mengelus punggungnya. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi? Aku tidak akan satu rumah dan satu sekolah dengannya. Dan di saat-saat seperti ini, aku tidak akan bisa mengelus mukanya yang halus karena kami sedang berjalan. Biasanya dia tertawa riang dan kulit putihnya memancarkan cahaya kegirangan. Namun, yang kulihat kini air mata yang membasahi pipinya. “Ini harus ya Ri? Aku nggak pengen kita pisah!”Kata Fera. “Iya aku tau. Aku juga nggak pingin kita pisah”Kataku mencoba menenangkan Fera. “Hmm, semoga persahabatan kita akan terjalin terus ya”Kata Fera lirih. “Iya”Kataku.




















5
Ferami Kelzia
Jangan sebarkan rahasia ini ya! Aku menangis semalaman! Aku tidak ingin lain sekolah dengan Rio. Mungkin kau akan menganggapku cengeng karena aku sudah menangis semalaman tetapi penyebabnya adalah aku tidak satu sekolah dengan Rio. Walaupun kami hanya sebatas sahabat. Namun, aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku. Hmmm, aku percaya Tuhan pasti sudah memberikan yang terbaik.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lanjutan? banyak tugassss!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar