Selasa, 25 November 2014

Sebuah misteri (part 5)

Sebuah Misteri (part 5)

"Eh lo kok ga bisa diatur sih! Cepet teror Nadya mulai sekarang!"Kata seorang wanita yang duduk sambil membawa tongkot berhiaskan permata berwarna gelap. "Hmmm, iya ratu. Kami akan usahakan malam ini"Kata salah satu pria memakai jubah berwarna hitam dan wajahnya bertutupkan topi hitam. Sehingga wajahnya tidak kelihatan. "Baiklah! Ingat! Jangan sampai kamu ketahuan oleh Nadya!"Kata wanita itu lagi. "Ba...baik ratu"Kata pria berawak gendut dan juga memakai jubah berwarna hitam. Sifatnya penakut dan sebenarnya penuh kasih sayang. Namun, karena tidak ada pekerjan lain, ia terpaksa masuk ke kolompok yang ditempatinya sekarang. Namanya Gemalio. Panggilannya Lio. "Sana! Pergi dari ruanganku dan satu hal la, kalian harus selalu membawa alat penguhung kalian agar selalu terhubung denganku.Jangan sekali-kali kalian mengahncurkan rencana ini!"Teriak wanita itu dengan lantang."Baiklah ratu"Kata dua pria itu secara bersamaan atau mungkin?
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Victor...
Sebentar lagi, cewek itu akan jatuh ke tangan gue. Gue pasti akan mendapatkannya lebih dulu daripada  Keyni. Keyni kan cowok cuek. Sementara gue termasuk keren. Walaupun gue tampat cupu karna kacamata bergagang emas ini. Tapi ini cuma buat bgetutupin kalau gue sebenernya buta. Tapi, gue bisa gerasain kalau ada benda di sekitar gue. Ya, nggak apa-apa kan kalau kelihatan cupu dikit. Yang penting gantengnya kelewat ganteng.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Jam 22.00 malam...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Eh gue tidur dulu ya"Kata Nadya kepada Keyni saat di telepon. "Iya bye"Kata Keyni. Nadya pun tidur. Namun, ada kejanggalan yang dilupakannya. "SUSAN!"Kata Nadya histeris. "Oh iya Susan ada di mana ya? Kenapa dari tadi dia nggak pulang ke rumah? Walaupun aku akan jadi musuh bebuyutannya tapi aku tetap menghawatirkan kondisi dan keadaan Susan sekarang. Semoga pada diri Susan tidak terjadi apa-apa"Kata Nadya dalam hati. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nadya...
Mungkin bagiku kata musuh bebuyutan nggak akan mempan untuk saat ini. Karena saat ini aku sangat khawatir tentang keadaan Susan. Di mana? Mengapa? Siapa? Kenapa? Semua pertanyaan ingin kulontarkan. Dari tadi juga, aku tidak bisa menghubungi dia. Jangan-jangan....  Oke jangan berpikiran aneh-aneh dulu. Aku akan pergi keluar rumah. HAH? Tanyaku sangat keras. Dinding di rumahku dipenuhi dengan coretan you must die. Ini tidak mungkin kerjaan satpam dan pembantu kami kan? Jangan bilang kalau yang melakukan ini adalah anak buah utusan Susan. Atau malah Susan sendiri yang melakukannya? Ah aku jadi pusing. Sudahlah aku ingin tidur saja. Hehehe... Besok aku akan terbangun lagi dan melihat tembok rumah yang bersih seperti semula lagi. Ya, itu mungkin menjadi keinginan terbesarku saat ini. Aku tidak ingin dibilang aneh-aneh oleh orang tuaku. Misalnya: Siapa ini yang nyoret-nyoret dengan kata-kata yang aneh ini? Mungkin aku akan mencurigai kalimat itu sebagai salah satu kalimat yang akan keluar dari mulut kedua orang tuaku. Bukan curiga sebagai pelaku loh ya! Sudahlah nigth!
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Hoamm" Nadya terbangun dengan suara menguapnya. Dia sudah terbiasa bangun dengan suara menguap. "Ada SMS!"Kata Nadya. "JANGAN BERANI-BERANI MENDATANGI WILAYAHKU! SEBAB KAU AKAN MENERIMA TEROR!" Kata kalimat di SMS itu dan SMS itu berasal dari Susan! "Oh tidak, aku saja tidak tahu wilayahnya"Kata Nadya sambil bermuka datar.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Sayang, kamu tau nggak di mana saudara kembarmu?"Tanya mama Nadya saat di kamar Nadya. "Nadya nggak tau ma, Nadya juga nggak liat Susan dari kemarin. Emang Susan nggak hubungi mama?"Tanya Nadya penasaran. "Nggak, makanya mama nanya kamu. Mama kira kamu tau"Kata mama Nadya sambil tersenyum. Wajahnya menampakan kekhawatiran yang besar. "Ma, di ruang tengah ada banyak coretan nggak di dindingnya?"Tanya Nadya penasaran. "Hmm, nulisnya kayak pake cat merah. Mama pusing. Pertama, Susan hilang. Kedua, dinding rumah kita penuh dengan coretan"Kata mama pasrah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nadya....
Kutunjukan tidak ya SMS dari Susan tadi? Tapi, bagaimana kalau nantinya mama malah lebih khawatir lagi karena aku dan Susan akan terancam. Ah lebih baik kusimpan dulu SMS ini. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Hmm nanti kalau kamu dapat informasi tentang Susan segera beritahu mama ya"Kata mama lirih. "Iya ma"Kata Nadya. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi ini, Nadya berangkat sekolah dengan muka khawatir. Untung mamanya bukanlah pekerja. Namun, penjual barang-barang online.Ya, tapi untungnya lumayan gede atau besar. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Keyni...
Eh ada Nadya. Kenapa mukanya murung ya? Lebih baik aku langsung menuju padanya dan bertanya ada apa. "Nad, mukamu kok murung? Inget kita kan sahabat"Kataku sambil berjalan di samping Nadya.  "Susan Ni"Kata Nadya lirih. "Kenapa sama Susan?"Tanyaku. "Di.. dia neror aku"Kata Nadya gemeteran. "Kan udah aku bilangin kalau ada apa-apa langsung telpon aku" Kataku sedikit dengan nada menegur. "Kemarin aku mau telpon kamu tapi aku nggak bisa"Kata Nadya yang kini mengeluarkan air mata. Ini salahku? "Hmm, Nad. Aku minta maaf"Kataku sambil terputus-putus. "Kamu nggak perlu minta maaf"Kata Nadya lalu berlari entah ke mana. Sekarang ini benar-benar salahku. Aku membuatnya menangis dan berlari entah ke mana. Harusnya aku tidak menegurnya tadi.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nadya...
Dia pasti berpikir aneh-aneh saat ini. Sebenarnya aku tidak perlu memaafkannya tadi karena tidak ada kesalahan yang dia lakukan. Dia benar tadi. Harusnya aku menelponnya. Tapi, kemaren kan sudah malam. Masa aku harus mengganggunya? Hari ini sungguh kacau. Kulap air mataku menggunakan sapu tanganku. Memang aku agak cengeng. Jadi jangan heran!
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lanjutan? kapan" ya guys!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar